
Ngombik Bebeng adalah kegiatan mengupas bawang merah yang menjadi inspirasi Merry Yuniastuty untuk menciptakan tari-tarian. Ngombik Bebeng sendiri merupakan kata dalam Bahasa Madura yang menjadi bahasa ibu bagi seagian penduduk di Kota Probolinggo.
Tak hanya mengajarkan mengenai teori dalam menjaga keamanan, Guru SMPN 9 Kota Probolinggo Sukalis juga membuat “Alling” (Alarm Anti Maling) yang cara pembuatannya juga ia ajarkan pada siswa. Alat ini merupakan inovasi sederhana berbasis kelistrikan yang berfungsi sebagai alat pengaman rumah tangga. "
Sampah selama ini dianggap sebagai barang yang sudah tidak bisa lagi digunakan, karena itu kemudian dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Namun di lingkungan Kelurahan Kebonsari Kulon RW 17, sampah berubah menjadi berkah di tangan ibu-ibu yang tergabung dalam Komunitas Gerpesh Jitu (Gerakan Peduli Sampah Siji Pitu).
Menariknya, alat yang diciptakan Pak Sholeh ini kemudian dimanfaatkan oleh pelaku UMKM sebagai sumber energi untuk menyalakan penerangan saat mereka berjualan di malam hari. Selain itu para pelaku UMKM ini juga menggunakan alat yang sama untuk mengecas HP hingga menyalakan pelantang untuk memutar musik yang dapat menarik pembeli.
Inovasi ini dibangun karena adanya permintaan yang besar di masyarakat. Sebuah jasa layanan antar untuk makanan maupun barang lainnya, menjadi penting pada saat pandemi Covid-19 berlangsung. Ketika interaksi dibatasi, maka di sanalah ada kebutuhan jasa layanan antar barang dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Setelah pandemi usai, masyarakat yang sudah terbiasa dengan delivery order mulai mengajukan permintaan untuk layanan lainnya. Karena itulah, menyambut antusiasme tersebut, layanan Ya Kur
melalui Inovasi Lampah Ibu ini, Inovator berharap dapat mengetuk pintu hati para dermawan untuk dapat berpartisipasi melalui sedekah sampah/ uang yang nantinya dapat digunakan untuk meng-Umrohkan guru ngaji di TPQ, marbot dan para Hafidz Qur’an