Gerpesh Jitu, Ubah Sampah Jadi Berkah

Sampah selama ini dianggap sebagai barang yang sudah tidak bisa lagi digunakan, karena itu kemudian dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Namun di lingkungan Kelurahan Kebonsari Kulon RW 17, sampah berubah menjadi berkah di tangan ibu-ibu yang tergabung dalam Komunitas Gerpesh Jitu (Gerakan Peduli Sampah Siji Pitu).

Ibu ibu Gerpesh Jitu melakukan aksinya, memungut sampah untuk dimanfaatkan kembali

Sampah selama ini dianggap sebagai barang yang sudah tidak bisa lagi digunakan, karena itu kemudian dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Namun di lingkungan Kelurahan Kebonsari Kulon RW 17, sampah berubah menjadi berkah di tangan ibu-ibu yang tergabung dalam Komunitas Gerpesh Jitu (Gerakan Peduli Sampah Siji Pitu).

Kehadiran mereka seolah menjadi pembuktian bahwa, sampah pun masih bisa dikelola dan mendatangkan keberkahan bagi sesama. R. Rr Anggrianingsih, Ketua Gerpesh Jitu mengatakan, gerakan ini bermula dari banyaknya sampah yang berserakan di sekitar lingkungan RW 17 yang belum dikelola dengan baik. Karena itu Bu Ning, panggilan akrab Anggrianingsih, membentuk Bank Sampah. Pembentukan bank sampah ini didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Probolinggo dan Kelurahan Kebonsari Kulon.

Warga RW 17 pun membuat sebuah gerakan yang dinamai gerakan peduli sampah siji pitu, sebagai cerminan kepedulian mereka pada lingkungan di sekitar RW 17. Bank Sampah ditempatkan di rumah Ibu Ketua RW 17, R. Rr Anggrianingsih. Mulailah ibu-ibu dari RT 1 sampai RT 6 berkumpul dan membentuk kepengurusan. Mereka juga mendapatkan sosialisasi mengenai pemilahan, pengelolaan dan pemanfaatan sampah dan giat menerapkan ilmunya pada Bank Sampah yang mereka bentuk. 

Setelah itu mereka pun rajin melakukan pemilahan sampah dan menerima sampah dari rumah-rumah warga. Koordinator di setiap RT pun berupaya memaksimalkan jumlah sampah yang bisa disetor. Setelah uang itu terkumpul, hasilnya tidak mereka nikmati sendiri. Inilah yang kemudian membedakan Gerpesh Jitu dengan bank sampah lainnya. Nilai ekonomi yang mereka hasilkan dari sampah, mereka kembalikan lagi ke masyarakat.

“Hasil dari pengelolaan sampah itu, 30 persen kami sisihkan untuk pendanaan pelestarian lingkungan di sekitar RW 17. Misal ada yang membutuhkan alat kebersihan atau tempat sampah kami mengambilkan dananya dari sana,” kata Bu Ning.

Sisa 70 persennya, dikumpulkan oleh Bu Ning dan kawan-kawannya untuk disalurkan menjadi sumbangan ke berbagai pihak yang membutuhkan. Ketika ada bencana yang terjadi di sekitar Kota Probolinggo mereka dengan sigap menyalurkan hasil dari sampah itu untuk dikumpulkan dengan donasi dari donatur, dan dikirim ke mereka. Pemberian sumbangan itu tak hanya untuk Kota Probolinggo saja, bahkan sudah sampau ke korban bencana erupsi Semeru, banjir di Jawa Barat bahkan donasi ke umat muslim di Palestina.

Bagi warga skeitar RW 17, mereka secara rutin mendapatkan donasi. Anak yatim, janda, duafa dan anak sekolah tak luput mendapatkan hasil dari Gerpesh Jitu.

Inovasi dari emak-emak ini pun diangkat menjadi inovasi unggulan di Kelurahan Kebonsari Kulon dan ikut pada kompetisi Anugerah Inovasi Kota Probolinggo dan berhasil menyabet juara 2. Di tahun 2024, Gerpesh Jitu semakin aktif mengajak masyarakat menabung dan menambah penerima manfaat dari sumbangan yang mereka berikan. Mereka juga menambah jaringan kerjasama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) dan menyelenggarakan acara berbagi bersama.

Alur Inovasi Gerpesh Jitu


INGIN MENGETAHU LEBIH LANJUT PERIHAL INOVASI INI... HUBUNGI DI SINI

LINK TERKAIT