
Pojok Literasi Arkeologi merupakan saung untuk mempelajari banyak hal mengenai Kota Probolinggo. Baik potensinya hingga sejaragnya.
Edi Martono (kanan) saat menjelaskan pada pengunjung mengenai sejarah di Kota Probolinggo
Data UNESCO menyebut, Indonesia menjadi negara dengan urutan kedua dari bawah soal literasi dunia. Artinya minat baca sangat rendah. Masih menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.
Di Kota Probolinggo, berdasarkan hasil kajian yang dilaksanakan oleh Dinas Perpustakaan Kota Probolinggo (2021), indeks minat baca masyarakat Kota Probolinggo sebesar 48,13 atau tergolong dalam kategori minat baca sedang. Angka ini tentu perlu ditingkatkan, utamanya di tengah-tengah masyarakat yang tidak memiliki budaya baca.
Dengan semangat menumbuhkan minat baca di masyarakat, didirikanlah Pojok Literasi Arkeologi yang semula dinamai “Gubuk Maos” Taman Kreatifitas Remaja, Bina Keluarga Remaja (TKR BKR) yang terletak di gang kecil, di tengah tengah padatnya rumah penduduk di Kelurahan Sukabumi. TKR BKR ini dikelola dengan menggunana dana pribadi dan memanfaatkan koleksi buku milik pengelola yang saat itu didominasi buku-buku bernuansa sejarah.
Semangat itu terus tumbuh hingga pada pandemi covid-19 kegiatan ini sempat vakum sejenak. Namun rupanya pandemi memberikan anugerah di balik musibah. Pengurus TKR BKR mendapat banyak sekali undangan untuk mengikuti webinar, sosialisasi dan kegiatan lain yang diselenggarakan secara daring. Sering kali sosialisasi ini berputar di area, pengenalan literasi arkeologi. Termasuk pada 2021, inovator mendapat undangan diskusi mengenai “Pojok Literasi Arkeologi” yang diselenggarakan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta. Menyerap ilmu dari peatihan tersebut kemudian Gubuk Maos TKR BKR diubah menjadi Pojok Literasi Arkeologi “Sunan Kali Banger”. Konsep Pojok Literasi Arkeologi yang digagas oleh Balai Arkeologi Yogyakarta ini merupakan sebuah tempat yang difungsikan untuk mendukung gerakan literasi, yaitu sebuah gerakan kesadaran membaca buku dengan tema arkeologi. Selain itu disediakan pula artefak, benda-benda kuno yang mendukung lietrasi arkeologi yang disajikan.
Sementara nama Sunan Kali Banger diambil menjadi nama karena merupkana akronim dari Sinau kang Tenanan Kabudayan, Literasi, Babad, Lan Paugeran. Nama itu juga menjadi cerminan semangat yang dibawa Edi Martono, inovator sekaligus Ketua Tim Pojok Literasi Arkeologi (PLA) Sunan Kali Banger untuk mengajak anak muda mempelajari dan menghayati budaya dan sejarah sendiri.
2. PERMASALAHAN
Saat ini banyak budaya budaya lokal yang sudah tinggal sedikit bahkan sudah punah. Hal ini menyebakan generasi mudah kita tidak tahu dan tidak memahami akan adanya budaya lokal di daerahnya, yang akhirnya mereka merasa aneh bahkan cenderung risih jika ada masyarakat generasi tua yang melaksanakan budaya tersebut. Kehadiran PLA Sunan Kali Banger diharapkan menjadi sumber yang menydiakan informasi mengenai makna budaya yang sudah atau akan punah. Agar para remaja dan generasi mudah memahami filosofi di balik suatu budaya.
Di lain sisi, banyak sekali generasi muda yang lebih suka mencari informasi dari media sosial tanpa melakukan verifikasi, apakah informasi yang diperoleh tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah atau tidak. Karena itu, kehadiran PLA Sunan Kali Banger diharapkan mampu memberikan jawaban atas hal-hal tersebut.
3. ISU STRATEGIS
Beberapa tahun terakhir, sekolah semakin menggalakkan gerakan literasi yang tak hanya sekadar membaca, namun juga memahami apa makna yang dibaca. Namun di bidang sejarah, tak sekedar membaca, seringkali remaja dan anak anak tidak memahami akan filosofi sebuah peristiwa atau peninggalan nenek moyang yang telah lama meninggalkan kita. Karena itulah kemudian kehadiran Pojok Literasi Arkeologi Sunan Kali Banger berupaya menjelaskan sejarah atau kejadian masa lalu yang mana berpotensi dilupakan. Terlebih di era internet of things (IOT) banyak remaja yang tidak tertarik mempelajari dengan benar mengenai sejarah bangsanya disebabkan oleh kurangnya tempat yang menyajikan bahan bacaan tentang sejarah. Kalaupun ada, rata rata tempatnya kurang menarik, monoton serta kaku. Karena itu, kehadiran Pojok Literasi Arkeologi Sunan Kali Banger diharapkan menjadi oase yang menyediakan fakta dibalik sejarah, khususnya di Kota Probolinggo.
4. METODE PEMBAHARUAN
Kondisi sebelum adanya inovasi ini, tak sedikit remaja di lingkungan Kelurahan Sukabumi yang masih kebingungan mencari kegiatan yang positif dan bermanfaat. Setelah adanya Pojok Literasi Arkeologi, mereka tak hanya bisa mengetahui mengenai informasi sejarah namun juga belajar mengelola organisasi sebagai pengurus atau tim. Sementara bagi masyarakat umum yang berada di luar Kelurahan Sukabumi, mereka dapat mengetahui berbagai macam cerita sejarah masa lalu Kota Probolinggo dengan cara yang asyik, disertai dengan bukti peninggalan dan fakta ilmiah yang mendukung.
Pojok Literasi Arkeologi (PLA) Sunan Kali Banger kini menjadi pusat ilmu pengetahuan sejarah Kota Probolinggo yang berbentuk museum masyarakat. Dari koleksi yang dimiliki, PLA Sunan Kali Banger tak hanya sekedar menyajikan fakta sejarah, namun hikmah dan makna yang dapat diambil pelajaran dari peristiwa yang terjadi di masa lalu. Semangat ini ditularkan pada generasi muda agar mereka tak hanya mengetahu adat istiadat dan kebudayaan nenek moyangnya namun juga memliki pedoman berperilaku dalam interaksi dengan orang yang lebih tua, orang yang setara usia hingga bagaimana menyayangi dan mengayomi pada yang lebih muda.
Lebih jauh lagi, PLA Sunan Kali Banger terus berbenah dan bertumbuh untuk membersamai warga Kota Probolinggo mengenal masa lalunya dan menjadikannya sebagai dasar untuk membangun masa depan kota untuk generasi berikutnya.
5. KEUNGGULAN DAN KEBAHARUAN
Pojok Literasi Arkeologi Sunan Kali Banger merupakan terobosan untuk mempelajari sejarah dan budaya dengan cara yang menyenangkan. Kebaruan atau keunikan dari inovasi ini adalah:
• Memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya generasi muda untuk belajar dan memahami sejarah degan cara yang menyenangkan.
• Didukung dengan koleksi yang dilengkapi narasi yang mudah dipahami
• Didesain sebagai tempat terbuka agar pengunjung tidak merasa jemu akibat berada di ruangan tertutup
PETUNJUK TEKNIS INOVASI
MEDIA SOSIAL
Kunjungan dari teman teman Media ke Pojok Literasi Arkeologi
Kunjungi Pojok Literasi dan buat jadwal dengan KLIK DI SINI
atau cek websitenya di https://sites.google.com/view/plasunankalibanger/profil