
Program JATUHATI melibatkan siswa dalam proses pembuatan dan penjualan jajanan sehat, yang akan dilakukan oleh masing-masing kelas. Setiap kelompok bertanggung jawab untuk menyusun menu, mengolah, dan menjual makanan dengan harga terjangkau, antara Rp2.000 hingga Rp5.000. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman praktis dalam kewirausahaan, tetapi juga membentuk budaya hidup sehat di sekolah.
Siswa saat membeli jajanan sehat di program jatuhati
KANIGARAN - Sebelum adanya inovasi jatuhati, siswa SMPN 5 Probolinggo masih banyak yang membeli jajanan dari Luar sekolah yang tidak terjamin keamanannya Berdasarkan pengamatan sekolah, jajanan dari luar seperti makanan ringan kemasan, minuman berwarna mencolok, dan makanan siap saji banyak dikonsumsi siswa tanpa memperhatikan kandungan gizinya.
Hal ini menunjukkan, belum terbangunnya budaya konsumsi makanan sehat di sekolah. Sekolah belum memiliki kegiatan rutin yang secara khusus membentuk kebiasaan dan pola pikir siswa terhadap pentingnya makanan sehat, bersih, dan bergizi. Selain itu, ada keterbatasan wadah baigi Siswa untuk Berkreasi dalam Bidang Kuliner Sehat dan Kewirausahaan Sebelum JATUHATI (Jajanan Sabtu Sehat dan Inovatif) digagas, siswa belum memiliki ruang belajar langsung untuk membuat, menjual, dan mempromosikan makanan sehat sebagai bentuk pembelajaran proyek dan kewirausahaan.
Program JATUHATI melibatkan siswa dalam proses pembuatan dan penjualan jajanan sehat, yang akan dilakukan oleh masing-masing kelas. Setiap kelompok bertanggung jawab untuk menyusun menu, mengolah, dan menjual makanan dengan harga terjangkau, antara Rp2.000 hingga Rp5.000. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman praktis dalam kewirausahaan, tetapi juga membentuk budaya hidup sehat di sekolah.
Kondisi Sesudah Inovasi JATUHATI ( Jajanan Sabtu Sehat Inovasi )
1. Integrasi PJAS dengan SSB (Sabtu Sehat Bersih dan Beriman). PJAS terintegrasi ke dalam program SSB, khususnya pada bagian "Sehat", dengan kegiatan langsung menyediakan jajanan sehat oleh siswa yang dijadwalkan setiap Sabtu.
2. Kegiatan pengadaan dan penjualan makanan sehat oleh siswa. Siswa membuat sendiri makanan sehat dan menjualnya kepada teman-teman, dibina oleh guru dan wali kelas. Makanan dijual dengan harga terjangkau (Rp2.000–Rp5.000).
3. Pelatihan kader keamanan pangan sekolah. Dibentuk kader keamanan pangan sekolah (KPS) yang bertugas melakukan edukasi, pemeriksaan KLIK (Kemasan, Label, Izin edar, Kedaluwarsa), dan pengecekan langsung kebersihan serta bahan makanan.
4. Pengurangan penggunaan plastik dan bahan sintetis pada jajanan. Jajanan wajib dikemas menggunakan bahan ramah lingkungan, tanpa plastik dan styrofoam. Penjual wajib menggunakan celemek dan penjepit makanan.
5. Penerapan sistem pembukuan sederhana oleh siswa. Setiap kelas yang menjual makanan wajib mencatat modal, hasil penjualan, dan laba secara sederhana dalam buku pembukuan. Hal ini melatih literasi finansial dan jiwa wirausaha siswa.
BERIKUT PETUNJUK TEKNIS YANG DIGUNAKAN UNTUK MEWUJUDKAN JAJAN BERSIH
Untuk mengetahui lebih jauh mengenai inovasi ini hubungi:
Jl. Hos Cokroaminoto No.26, Kanigaran, Kec. Kanigaran, Kota Probolinggo, Jawa Timur 67213
| TELEPON | (0335) 5892899 |